KORAN GUNTUR POS. – Teguran Alam dan Panggilan untuk Kembali kepada Allah swt.
Indonesia kembali diingatkan bahwa manusia hidup di tengah alam yang jauh lebih besar daripada kekuasaan dirinya. Pada Minggu, 6 September 2026, empat gunung api dilaporkan mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Semeru. Tiga di antaranya berstatus Siaga dan satu berstatus Waspada pada saat laporan tersebut.
Peristiwa ini tentu harus dilihat secara ilmiah. Para ahli menjelaskan bahwa erupsi keempat gunung tersebut tidak berarti satu gunung memicu gunung lainnya. Masing-masing mempunyai sistem magma dan dinamika vulkanik sendiri.
Tetapi bagi orang beriman, fenomena alam tidak berhenti pada penjelasan geologi. Alam juga merupakan ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah yang semestinya menggerakkan manusia untuk berpikir, melakukan introspeksi, dan semakin mendekat kepada-Nya.
Allah SWT berfirman:
“Dan tidaklah Kami memperlihatkan kepada mereka sesuatu tanda kecuali yang lebih besar daripada tanda-tanda yang sebelumnya.” (QS. Az-Zukhruf: 48).
Karena itu, erupsi gunung api jangan hanya menjadi tontonan, berita viral, atau bahan perdebatan di media sosial. Jadikanlah ia sebagai momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah benarkah cara kita menjalani kehidupan?.
Jangan merasa manusia paling berkuasa.
Gunung yang selama ini tampak kokoh dapat memuntahkan abu, lava, dan material vulkanik dalam hitungan waktu. Manusia yang merasa memiliki jabatan, kekayaan, kekuasaan, dan pengaruh akhirnya menyadari bahwa semua itu sangat kecil di hadapan kekuasaan Allah.
Allah SWT mengingatkan:
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong.” (QS. Al-Isra’: 37).
Ayat ini relevan bagi semua orang, terlebih mereka yang memperoleh amanah kekuasaan. Jabatan bukanlah mahkota untuk menyombongkan diri. Jabatan adalah amanah. Kekuasaan bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Kekuasaan adalah pertanggungjawaban.
Setiap pemimpin harus menyadari bahwa suatu hari ia akan meninggalkan kursinya. Ia akan meninggalkan kantor, kendaraan dinas, fasilitas, pengawalan, dan segala kemewahan dunia. Yang dibawa menghadap Allah bukan jabatan, melainkan amal perbuatannya. *Kepada para pemegang kekuasaan, jangan bohongi rakyat.
Momentum ini juga seharusnya menjadi peringatan bagi para pemegang kekuasaan agar tidak mempermainkan rakyat.
Jangan rakyat dibohongi dengan janji-janji yang tidak pernah diwujudkan. Jangan rakyat dibebani berbagai pungutan yang tidak jelas dasar, tujuan, dan manfaatnya. Jangan kebijakan dibuat hanya untuk menguntungkan kelompok tertentu sementara rakyat kecil semakin terhimpit.
Pajak dan pungutan yang sah tentu merupakan instrumen negara untuk membiayai pembangunan. Tetapi ketika pungutan dilakukan tanpa transparansi, tanpa keadilan, atau disertai penyalahgunaan kewenangan, maka persoalannya berubah menjadi persoalan moral dan hukum.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisa’: 58).
Kekuasaan yang tidak disertai keadilan akan melahirkan penderitaan. Dan penderitaan rakyat bukan sesuatu yang boleh dianggap ringan oleh seorang pemimpin.
Korupsi bukan sekadar kejahatan kepada negara. Korupsi juga harus dilihat sebagai persoalan moral dan keagamaan. Uang hasil korupsi mungkin dapat disembunyikan dari manusia. Dokumen dapat dimanipulasi. Jejak transaksi dapat dihapus. Bahkan seseorang mungkin dapat lolos dari hukuman dunia.
Tetapi tidak ada satu pun perbuatan manusia yang tersembunyi dari Allah.
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 234)
Karena itu, siapa pun yang memperoleh kekuasaan hendaknya bertanya sebelum mengambil sesuatu yang bukan haknya: Apakah saya sanggup mempertanggungjawabkan uang ini di hadapan Allah?. Pertanyaan sederhana itu seharusnya mampu menghentikan tangan yang hendak mengambil hak rakyat. (red)
